Sabtu, 20 Desember 2008

Pilih-pilih Makanan Sebagai Obat

MAKANAN tidak sekadar penghilang lapar. Jika Anda pandai memilih, makanan dan minuman dapat berfungsi sebagai obat atau pencegah penyakit.

You are what you eat. Makanan adalah cerminan diri, termasuk kesehatan tubuh. Anda bisa sakit akibat makanan yang dikonsumsi, tapi di sisi lain makanan juga bisa menjadi obat, setidaknya sebagai upaya pencegahan penyakit. Anda mungkin pernah mendengar anjuran makan tomat untuk mencegah kanker, bawang putih untuk mencegah AIDS, atau minum jus buah supaya terhindar dari kepikunan (minimal memperlambat).

Itu hanyalah sebagian kecil. Peran makanan dalam mencegah atau bahkan mengobati penyakit memang telah terbukti nyata melalui sejumlah riset. Para ilmuwan meyakini diet berkualitas dan seimbang adalah kunci hidup sehat. Selain itu, pemerintah di berbagai negara sejak beberapa tahun terakhir telah menyarankan masyarakat untuk menerapkan pola diet dengan lima porsi buah dan sayuran, juga produk susu dan gandum. Sebaliknya, kurangi mengonsumsi alkohol dan gula.

Mengawasi apa yang Anda makan, kata para ahli, terbukti membantu mencegah penyakit seperti diabetes dan kolesterol berlebih (keduanya bisa memicu penyakit kardiovaskular), serta pengeroposan tulang (osteoporosis). Akan tetapi, untuk penyakit yang tidak terkait langsung dengan nutrisi seperti kanker, AIDS atau penyakit degeneratif, para peneliti tidak sepakat bahwa penyakit-penyakit tersebut dapat dilawan hanya dengan diet seimbang seperti yang direkomendasikan.

Berdasarkan ribuan studi yang telah dilakukan, para ilmuwan di Eropa menyimpulkan mengonsumsi serat dari buah dan sayuran dapat mengurangi risiko kanker usus besar (kolorektal). Buah juga diduga bermanfaat melindungi tubuh dari kanker paru. Sementara untuk mencegah kanker prostat, disarankan mengonsumsi lima cangkir minuman teh hijau yang kaya kandungan katekin.

Lain halnya dengan lemak yang telah melalui pemrosesan sehingga menjadi lemak "jahat" atau disebut juga trans fat. Selain membahayakan sistem kardiovaskular, ternyata juga dapat meningkatkan dua kali lipat risiko terkena kanker payudara. Sementara kacang kedelai justru menurunkan tiga kali lipat risiko tersebut. Namun, konsumsi kacang kedelai yang kaya akan kandungan antioksidan, konon dapat meningkatkan risiko infertilitas (ketidaksuburan).

Sementara itu likopen, suatu zat pigmen antioksidan berwarna merah cerah yang terdapat pada tomat dan buah berwarna merah lainnya, juga diklaim sejumlah peneliti dapat mengurangi risiko kanker. Sayangnya, Badan Administrasi Makanan dan Obat Amerika (FDA) menepisnya dengan mengatakan bahwa belum ada cukup bukti yang bisa membenarkan klaim tersebut.

Sementara itu, jika ada anggota keluarga Anda yang terkena penyakit kepikunan (alzheimer), jus buah delima bisa dimasukkan dalam menu harian. Konon, khasiatnya sama dengan kandungan polifenol dalam segelas minuman anggur merah.

Nah, di negeri maritim ini, mayoritas penduduknya tentu menyukai ikan yang kaya asam lemak tak jenuh omega- 3. Kabar buruknya, polusi menyebabkan badan ikan juga terakumulasi merkuri dan racun PCBs atau polychlorinated biphenyls. "Jadi, sebenarnya tidak ada makanan yang bagus atau jelek," komentar seorang agen keamanan makanan dari Afssa, Prancis.

"Kendati demikian, mengonsumsi lima porsi buah dan sayur per hari serta mengurangi lemak hewani adalah standar paling umum dan masuk akal yang perlu diterapkan," ujar onkologis Dominique Belpomme.

Para ahli di Pusat Penelitian Kanker dan Makanan Nasional Prancis, NACRe, juga tak mau ketinggalan menyumbangkan hasil penelitiannya. Terungkap, diet yang bervariasi dengan komposisi buah dan sayuran yang dominan, serta tidak minum banyak alkohol dapat mencegah terjadinya kanker mulut, faring, kerongkongan, paru, perut, pankreas, usus besar dan anus.

Pada akhirnya, setelah menginventarisasi 7.000 penelitian di seluruh dunia, World Cancer Research Fund (WCRF) menyarankan untuk menghindari makanan dan minuman tinggi gula, garam atau lemak dan rendah serat. Sebaliknya, perbanyaklah konsumsi buah, sayuran, dan sereal atau biji gandum.

Makan dengan benar dan teratur juga menjadi kunci utama perawatan orang dengan HIV positif dan jika kekurangan nutrisi, maka daya tahan tubuhnya akan langsung melemah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar