Sabtu, 20 Desember 2008

Orang Sibuk Rawan Stroke

TINGGINYA tuntutan pekerjaan dan mepetnya deadline tugas kerap membuat pekerja merasa stres. Jika tak diimbangi pola hidup sehat, risiko stroke pun mendekat.

Derajat kesehatan seseorang dapat diamati dari gaya hidup yang dijalaninya sehari-hari. Orang yang rutin berolahraga dan rajin mengonsumsi makanan serta minuman bergizi, tentu berisiko lebih rendah terkena berbagai gangguan kesehatan.

Sebaliknya, gaya hidup bermalas-malasan, apalagi disertai konsumsi makanan berkadar lemak dan kalori tinggi, dapat memicu peningkatan kolesterol dan gangguan fungsi pembuluh darah. Akibatnya bisa mengarah pada hipertensi, diabetes, bahkan stroke.

"Seseorang yang telah memasuki usia bekerja sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan medis," kata spesialis dari Klinik Beijing Tong Ren Tang, Tang Bao Lu OMD, dalam seminar Kesehatan bertajuk "Bagaimana Cara Pencegahan Stroke" di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Perlu diketahui, stroke tidak hanya disebabkan hipertensi sebagai pemicunya. Faktor lain yang juga memicu stroke, antara lain tekanan darah rendah, kolesterol, atheroskelerosis, pengentalan darah yang tinggi, merokok, gangguan irama jantung, dan obesitas. Di samping gaya hidup, faktor psikologis juga turut menjadi pemicu stroke.

"Stres pun bisa memicu terjadinya stroke," ujarnya. Kondisi panik juga bisa mempercepat serangan stroke. Seseorang yang mengalami cemas berlebih misalnya, jantungnya akan berdetak lebih kencang, napas tersengal-sengal, dan berisiko tinggi mengalami serangan jantung atau stroke.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam The Archives of General Psychiatry menyebutkan, orang yang mempunyai perasaan depresi, marah, dan rasa permusuhan akan meningkatkan risiko serangan jantung.

"Penelitian ini menyebutkan serangan panik dalam daftar gangguan emosional dan gejala psikiatri yang dihubungkan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular dan kematian," kata Dr Jordan Smoller, seorang peneliti dari Rumah Sakit Umum Massachusetts di Boston.

Sementara itu, Direktur Divisi Penyakit Kardiovaskular Sekolah Kedokteran Universitas Florida Selatan, Vibhuti N Singh MD MPH FACC FSCAI, mengingatkan, jika seseorang mengalami sakit atau tidak nyaman pada bagian dada, mulut, bahu, lengan atau punggung, maka bisa jadi ia rentan mengalami serangan jantung.

Lebih lanjut, Konsultan Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Pusat Jantung Nasional RS Harapan Kita Jakarta dr Aulia Sani SpJP mengungkapkan, pada dasarnya terdapat dua jenis stroke yaitu haemorragic (terjadi pendarahan di otak) dan non haemorragic (tidak terjadi pendarahan, tapi terjadi sumbatan pembuluh darah di otak).

Akan tetapi, dia menegaskan bahwa stroke dapat dihindarkan sejak awal, terutama jika dikaitkan dengan beberapa penyebab yang lebih bersifat dari luar (eksternal). "Faktor gaya hidup, kurang olahraga, merokok, dan obesitas merupakan contoh penyebab stroke yang bisa dicegah sejak awal," sebutnya.

Pengobatan

Gangguan jantung bisa ditangani melalui beberapa macam, antara lain diagnostic non invasive, diagnostic invasive, intervensi non-bedah, dan bedah jantung. Penelitian yang dilakukan badan independen Sekolah Kedokteran Universitas Jikei di Tokyo, Jepang, mengungkapkan bahwa pengobatan dengan jenis angiotensin receptor blocker (ARB) valsartan secara signifikan telah mengurangi insiden stroke sebesar 40%.

Selain itu, terjadi pengurangan sebesar 39% pada kelompok pasien penyakit jantung yang diberi valsartan dibandingkan kelompok yang menggunakan obat non-ARB.Jumlah total rawat inap juga berkurang sebanyak 33% pada kelompok pasien yang diberi valsartan. Bagi orang Indonesia, implikasi dari penelitian ini selain dapat meningkatkan pengobatan penyakit jantung, juga berarti pengurangan secara signifikan atas biaya rawat inap rumah sakit serta biaya obat-obatan.

Dr Iskandar Linardi dari Novartis Indonesia menyebutkan, ada beberapa golongan obat untuk hipertensi. Antara lain diuretik, alpha (?) dan beta (?) blocker, CCB (Calcium Chanel Blocker), ACE-inhibitor, ARB (Angiotensin, Reseptor Blocker), dan obat-obat central. Sementara valsartan termasuk ke dalam golongan ARB. Valsatran berfungsi untuk menurunkan tekanan darah dan berperan sebagai proteksi.

Semakin banyak tekanan darah yang bisa diturunkan, risiko akibat hipertensi juga kian menurun. Penderita hipertensi itu sendiri dipengaruhi tiga hal, yaitu obesitas, gaya hidup, dan usia.

"Selain pengobatan, hipertensi dapat diminimalisasi dengan menjaga berat badan agar tidak kegemukan, mengubah gaya hidup dengan mengurangi garam, mengonsumsi makanan berserat, rutin olahraga, mengurangi rokok, dan menggunakan minyak dengan lemak tak jenuh untuk menggoreng makanan," tuturnya.


Sumber: okezone.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar