Selasa, 02 Desember 2008

Gigi Kurang Bersih Picu Terjadinya Karies

GIGI berfungsi mengunyah makanan. Mengunyah makanan adalah langkah pertama sebelum makanan masuk ke saluran pencernaan. Karena itu, gigi harus bersih. Jika tidak, bakteri atau kuman yang menempel pada gigi dan ikut terbawa makanan bisa mendatangkan banyak masalah.

Karies gigi adalah penyakit infeksi yang merusak struktur gigi dan mengakibatkan gigi berlubang. Jika tidak cepat ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, penanggalan gigi, infeksi, berbagai kasus berbahaya dan bahkan bisa menyebabkan kematian.

Faktor penyebab

Faktor penyebab terjadinya karies gigi adalah yang mempengaruhi bioflim atau lapisan normal pada permukaan gigi yang berasal dari saliva (air liur) dan faktor modifikasi yang tidak langsung mempengaruhi bioflim. Adapun yang tergolong dalam faktor primer adalah saliva atau air liur, diet, dan fluoride dengan campuran gaya hidup, dan riwayat penyakit gigi.

"Sebenarnya air liur yang dilumatkan itu dapat dibantu sama bakterial dan secara normal memang bakterial itu ada. Tetapi bakterial ini harus dijaga keseimbangannya dengan kebersihan. Jangan meninggalkan makanan pada saat akan tidur karena itu proses yang lama. Apalagi kalau adanya gula, dan itu paling jahat," terang drg Bambang Irawan, PhD dari Rumah Sakit Agung, Jakarta.

Karies gigi sendiri dapat digolongkan menjadi beberapa bagian, diantaranya lokasi, tingkat laju perkembangan, dan jaringan keras yang terkena. Secara umum karies gigi yang terkena di lokasi pun dapat dibedakan lokasinya. Pertama, karies di celah atau fisura gigi dan karies yang ditemukan di permukaan halus. Fisura terbentuk saat perkembangan alur, dan tidak sepenuhnya menyatu sehingga membuat turunan atau depresio yang khas pada struktur permukaan email.

Lain halnya dengan karies permukaan halus. Ada tiga macam permukaan halus. Pertama, karies proksimal, atau yang lebih dikenal dengan karies interproksimal. Karies ini terbentuk pada permukaan halus antara batas gigi dan karies akar berbentuk pada permukaan akar gigi. Karies proksimal adalah tipe yang paling sulit dideteksi. Terkadang tidak dapat dideteksi secara visual atau manual dengan sebuah explorer gigi.

Kedua, karies akar. Karies ini sering terjadi dan biasanya terbentuk ketika permukaan akar telah terbuka karena resesi gusi. Jika gusi sehat, kemungkinan terkena karies itu tidak akan terjadi karena tidak terpapar oleh bakteri. Permukaan akar lebih rentan terkena proses demineralisasi daripada enamel atau email. "Biasanya gigi graham ataslah yang merupakan lokasi tersering dari karies akar," ungkapnya.

Terakhir adalah karies jaringan keras yang terpengaruh. Karies ini bergantung pada jaringan keras mana yang terpengaruh, seperti enamel, dentin, atau sementum. Pada perkembangannya, mungkin saja karies ini hanya mempengaruhi enamel. Tapi ketika karies semakin meluas, dapat mempengaruhi dentin.

Sementum adalah jaringan keras melapisi akar gigi. Sementum dapat terkena bila akar gigi terbuka. "Kadang-kadang giginya utuh tapi rasa sakitnya itu bukan main dan terkadang orang nggak menyadari hal itu. Padahal kemungkinan itu yang terkena adalah akar giginya," sambungnya.

Jangan pernah menganggap sepele penyakit yang satu ini karena gigi yang berada dalam rongga mulut merupakan pintu masuk makanan. Jadi, kalau kita terkena infeksi, terlebih pada gigi yang tidak terawat, maka disitulah sumber bakteri. Kuman itu akan ikut dalam makanan dan masuk ke dalam pencernaan dan aliran ke dalam tubuh dan menyangkut berbagai organ tubuh. "Makan yang mengalir mengikuti peredaran darah itu akan menjadi masalah, misalkan pada jantung atau bahkan ke otak," tandasnya.

Pengobatan

Setiap orang memang memiliki keadaan lingkungan rongga mulut yang berbeda yang dapat mempengaruhi terjadinya proses karies. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan faktor risiko karies. Pemeriksaan faktor risiko karies dilakukan baik dengan anamnesis maupun pemeriksaan intraoral. Pada anamesis, hal-hal yang ditanyakan kepada si pasien biasanya berkaitan dengan riwayat kesehatan gigi, diet sehari-hari, asupan fluor dan kebersihan rongga mulut, plak gigi dan saliva pasien.

Pemeriksaannya sendiri dilakukan dengan menggunakan tabel model TL-M atau Traffic Light-Matrix, yaitu suatu tabel model pemeriksaan seperti lampu lalu lintas dengan warna merah, kuning, dan hijau. Warna merah menunjukkan karies pada gigi pasien yang tinggi atau buruk, warna kuning berarti pasien mudah terkena karies dan warna hijau menunjukkan bahwa karies pada gigi pasien berdarah.

Pemriksaan dengan TL-M ini cukup bermanfaat karena selain berguna untuk mengindenfikiasikan faktor risiko karies gigi, tabel seperti itu juga dapat membentu dokter gigi dalam mengedukasi pasien mengenai kesehatan gigi dan mulutnya. Pasien pun dapat langsung melihat sacara nyata dan lebih mengerti keadaan rongga mulutnya.

Selain dengan penanganan medis, ada cara tradisional yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya karies gigi, yaitu dengan teh. Teh sendiri bermanfaat untuk melindungi gigi karena mempunyai efek anti-cariogenic yang dapat menekan pembentukan karies. Teh yang biasa digunakan adalah teh hijau maupun teh hitam yang mengandung berbagai komponen senyawa yang dapat menghambat pembentukan karies. Catechins yang merupakan senyawa dalam kelompok poliphenol adalah senyawa utama yang aktif dalam melindungi gigi dari bahaya karies.

Poliphenol sendiri dapat menghambat perlekatan bakteri ke gigi dan mengikat protein permukaan bakteri dan menurunkan hidrofobisitas sehingga dapat menyebabkan agregasi bakteri. Tapi perlu diketahui bahwa teh yang baik untuk mencegah karies adalah teh tanpa gula karena gula merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya karies. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, teh harus diminum setiap hari setelah makan. Di samping itu, kebersihan mulut dan gigi tetap merupakan hal terpenting yang harus dijaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar