Senin, 22 Desember 2008

Kenali Penyakit Glaukoma

GLAUKOMA, salah satu dari sekian banyak penyakit mata yang bisa menyebabkan kebutaan. Jika glaukoma sudah diderita, penyakit ini sulit disembuhkan.

Glaukoma adalah kelompok penyakit mata yang disebabkan tingginya tekanan bola mata. Ini menyebabkan rusaknya saraf optik yang membentuk bagian-bagian retina di belakang bola mata. Di mana saraf optik ini menyambung jaringan-jaringan penerima cahaya dengan bagian dari otak yang memproses informasi penglihatan.

"Glaukoma merupakan salah satu penyakit mata. Glaukoma ini adalah kerusakan saraf mata yang penyebab utamanya adalah tekanan mata yang tinggi," ujar dokter ahli spesialis mata dari Jakarta Eye Center, dr Donny V Istiantoro SpM.

Dokter lulusan Universitas Indonesia ini juga mengatakan, setiap individu sebenarnya dapat terkena penyakit yang mampu mencetuskan kebutaan ini. Mulai bayi baru lahir sampai orangtua. Karena itu, penting sekali setiap orang mengetahui faktor-faktor risiko dari timbulnya glaukoma ini.

"Glaukoma dapat diderita oleh siapa saja dengan segala usia. Namun, penyakit ini lebih banyak menyerang individu dengan umur di atas 40 tahun," sebut dokter yang mengambil spesialisasi mata di Lions Eye Institute, Perth, Australia.

Masih dikatakan dokter yang pernah praktik di Singapore National Eye Center ini, faktor risiko yang harus diperhatikan, selain umur adalah riwayat anggota keluarga yang terkena glaukoma, tekanan bola mata, obat-obatan, riwayat trauma (luka kecelakaan) pada mata, dan juga penyakit lain.

Risiko glaukoma bertambah tinggi dengan bertambahnya usia. Terdapat 2 persen dari populasi usia 40 tahun yang terkena glaukoma. Angka ini, dia menyebutkan, akan bertambah dengan bertambahnya usia.

Untuk riwayat anggota keluarga yang terkena glaukoma, kata dia, untuk glaukoma jenis tertentu, anggota keluarga penderita mempunyai risiko enam kali lebih besar terkena penyakit tersebut. Risiko terbesar adalah kakak beradik, kemudian hubungan orangtua dan anak-anak.

"Seseorang yang mempunyai riwayat keluarga glaukoma mempunyai risiko sekitar dua kali daripada yang tidak mempunyai riwayat keluarga," sebut Sekretaris Seminar Glaukoma Perhimpunan Dokter Mata Indonesia (Perdami) ini.

Untuk faktor risiko terhadap tekanan bola mata, dia menyebutkan, pada tekanan bola mata di atas 21 mmHg sangat berisiko tinggi terkena glaukoma. Meskipun untuk sebagian individu, tekanan bola mata yang lebih rendah sudah dapat merusak saraf optik. Bagi yang ingin melakukan pengukuran tekanan bola mata, Anda dapat melakukannya di rumah sakit mata atau dokter spesialis mata.

Selain itu, Donny menyebutkan, pemakai obat tetes mata yang mengandung steroid yang tidak dikontrol dokter, obat inhaler untuk penderita asma, obat steroid untuk radang sendi, dan pengasup obat yang memakai steroid secara rutin lainnya bisa menjadi pemicu faktor risiko timbulnya glaukoma.

Ditambahkan dokter yang juga tergabung dalam American Academy of Ophthalmology (AAO) tersebut, penyakit mata yang menyebabkan kebutaan kedua setelah katarak itu sering kali timbul tanpa gejala sampai pada fase terakhir. Kecuali pada glaukoma jenis akut-tekanan bola mata tiba-tiba meninggi sehingga mata terasa sangat sakit.

"Deteksi dini glaukoma sangat penting dilakukan, segeralah konsultasikan ke dokter spesialis mata Anda mengenai glaukoma untuk pendeteksian dini. Tindakan yang pertama kali dilakukan apabila terdeteksi penyakit ini adalah bergantung pada saran dokter," ujarnya yang sudah berpraktik di JEC selama 5 tahun ini.

Sementara dokter spesialis mata yang juga dari Jakarta Eye Center, dr Iwan Soebijantoro SpM, mengatakan, keturunan menjadi faktor risiko yang lebih besar dibandingkan yang lain.

"Riwayat penyakit diabetes, hipertensi, dan migrain juga menjadi faktor risiko dari timbulnya penyakit glaukoma," ujarnya.

Penggunaan obat steroid dalam jangka waktu lama dan terus-menerus, misalnya, obat tetes mata atau juga seseorang yang menggunakan kacamata dengan minus yang tinggi juga disebutkan Iwan dapat menjadi faktor risiko timbulnya glaukoma.



Sumber : okezone.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar