Rabu, 02 November 2005

FENOMENA BUAH MERAH

"INI buah nilainya lebih mahal dari emas. Kalau Bapak tidak percaya, silakan beli untuk dicoba. Khasiatnya? Aiih..., Bapak punya badan bisa enak dan sehat. Harganya murah kok," ujar seorang perempuan Papua yang sedang berdagang di Pasar Timika.

Buah yang dijualnya adalah buah yang bentuknya mirip nangka cempedak. Hanya saja warnanya merah. Itulah buah merah yang melalui beberapa penelitian diyakini dapat mengobati kanker, AIDS, dan sejumlah penyakit lainnya.

Buah merah yang bernama Latin Pandanus conoideus Lam merupakan tumbuhan sejenis pandan khas Papua. Buah ini sekarang menjadi sangat terkenal, tidak saja di kalangan masyarakat Papua, tapi juga masyarakat di seluruh penjuru Tanah Air. Tidak sedikit orang asing yang bekerja di Papua pun mencarinya.

Fenomena ini bermula dari hasil penelitian yang dilakukan oleh dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Cenderawasih (Uncen) I Made Budi sejak 1998 lalu.

Ide penelitiannya muncul saat mengamati perilaku pola makan suku-suku di pedalaman Papua yang sering menggunakan buah merah menjadi teman makan umbi-umbian.

Hasilnya, buah merah ternyata bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit kanker, kebutaan, serangan jantung, tumor, endometriosis, sakit mata, bercak di paru-paru pada anak-anak, asam urat, dan jantung. Bahkan, saat ini pun sedang ada penelitian untuk menguji kemanjuran buah merah dalam menghambat virus HIV.

Buah ini sontak menjadi sebuah fenomena dunia pengobatan alternatif. Buah merah yang tadinya menjadi makanan ternak babi atau dibiarkan telantar di hutan belantara Papua, mendadak menjadi sangat terkenal.

Buah yang tumbuh di dataran tinggi ini mudah ditemui di seluruh dataran Papua. Dia tumbuh pada ketinggian 1.000-3.000 meter di atas permukaan laut, bentuk buahnya yang seperti nangka cempedak, memiliki panjang sampai 1,5 meter. Buah merah dapat ditemukan di hutan-hutan di seluruh Papua, namun terbanyak di Pegunungan Jayawijaya.

Berdasarkan penelitian Made, buah merah menghasilkan antioksidan yang bersifat antikanker dan tokoferol atau vitamin E. Kedua zat ini juga dimiliki oleh wortel. Kandungan beta karotin wortel juga tinggi, tetapi masih satu tingkat di bawah buah merah.

Jarang sakit

Karena dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari bersama umbi-umbian sebagai makanan pokoknya, masyarakat pegunungan yang pekerja keras itu berbadan kuat dan sehat. Mereka pun jarang menderita penyakit seperti demam, sakit mata, atau infeksi saluran pernapasan akibat asap dari api unggun yang selalu menyala di dalam rumah mereka.

Cara mengolah buah merah hingga menjadi obat pun tidak sulit. Setelah dicuci hingga bersih, buah merah dibelah dua untuk dibuang getahnya. Setelah itu, buah direbus dalam air sekitar satu jam atau sampai buah mengeluarkan cairan merah seperti tinta jika ditekan-tekan kulitnya.

Jika sudah demikian, buah sudah bisa diremas-remas untuk mendapatkan cairan merahnya. Cairan merah ditampung dalam sebuah gelas dan siap diminum. Mengonsumsi buah ini secara rutin diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit ganas.

Karena bentuknya yang besar dan panjang, buah merah tidak perlu direbus seluruhnya. Untuk konsumsi lima orang anggota keluarga, cukup memotongnya seukuran kepalan tangan. Sisanya dapat disimpan dalam lemari pendingin untuk digunakan keesokan harinya. Buah merah tidak akan busuk selama setahun jika disimpan dalam kulkas.

Harganya murah, seperti yang dikatakan perempuan tadi? Jangan kaget, buah merah yang berukuran sekitar 50 sentimeter, harganya sekitar Rp500.000. Yang berukuran hingga 1,5 meter, harganya bisa mencapai Rp2 juta.

Pembeli pun harus hati-hati jika ditawari air buah merah yang sudah jadi dan dikemas dalam botol. Untuk air merah botolan seukuran botol Kratingdaeng, harganya Rp150.000. Tetapi karena motifnya hanya mencari untung, sering kali kandungan air merahnya sedikit sekali dan penjual mencampur dengan air biasa supaya terlihat banyak. (Msc/S-5)

Note : Pastikan Buah Merah Yang Anda Beli terdaftar di Balai POM ( Pengawasan Obat dan Makanan) seperti Papua Wonder Red

(sumber: media indonesia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar