Rabu, 06 Mei 2009

Enzim Pencetus Kenakalan Anak

http://sehat-ituindah.blogspot.com
KENAKALAN anak diidentikkan dengan ketidakmampuan orangtua mendidik. Padahal, dalam penelitian, faktor pencetus kenakalan disebabkan enzim yang tidak seimbang. Benarkah?

Banyak orang beranggapan jika anak nakal itu disebabkan lingkungan atau orangtua yang tidak mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebenarnya anggapan itu ada benarnya. Namun, dalam penelitian yang dilakukan Institut Psikiatri di London, Inggris. Hasil penelitian yang dilansir New Scientist mengungkapkan, enzim yang disebut monoamine oxidase A atau MAO-A memiliki pengaruh pada perilaku agresif anak.

Anak yang lebih nakal dibandingkan dengan teman lain sebayanya memiliki enzim ini lebih banyak. Ketua Peneliti,Terrie Moffitt, melakukan penelitian dengan mengambil contoh darah dari 535 anak laki-laki dan 502 anak perempuan yang lahir di Selandia Baru dan yang terdaftar di Dunedin Multidisciplinary Health and Development Study yang dikelola Universitas Otago, Dunedin, Selandia Baru. Melalui tes darah tersebut, para peneliti memfokuskan pada tipe gen yang mengandung enzim MAOA. Tipe gen inilah yang mengendalikan perilaku agresif pada manusia dan hewan.

Kemudian para peneliti membandingkan interaksi antara aktivitas gen MAO-A dan kriminalitas serta kekerasan pada masa kanak- kanak, yang diketahui sebagai faktor penentu untuk perilaku antisosial ketika mereka dewasa. Para responden anak laki-laki kemudian dibagi menjadi dua grup berdasarkan contoh darah, tipe gen MAO-A mereka, dan pengalaman mereka pada kekerasan saat masa kanak-kanak.

Pemisahan ini mengungkapkan bahwa variasi gen MAO-A pada anak laki-laki tidak dapat dengan sendirinya memengaruhi perilaku anak tersebut ketika dewasa. Namun, kondisi ini berbeda jika mereka memiliki pengalaman kekerasan saat masa kanak-kanak dan hasilnya sangat mengejutkan.

Anak laki-laki dengan tingkat gen MAO-A rendah, tetapi mengalami kekerasan saat masa kanak-kanak memiliki kecenderungan 3 kali lebih besar untuk memiliki perilaku menyimpang saat remaja, dan 10 kali lebih besar untuk melakukan tindak kriminal saat mereka dewasa, dibandingkan dengan mereka yang juga memiliki tingkat MAO-A rendah, tetapi tidak mengalami kekerasan fisik.

Kondisi yang kurang lebih sama juga ditemukan pada mereka yang memiliki tipe gen MAO-A tinggi. Dalam kategori perilaku antisosial, ternyata hanya ada perbedaan minor antara anak-anak yang memiliki tipe gen MAO-A tinggi dan sempat mengalami kekerasan fisik dan yang tidak.

Pada akhirnya,Terrie menyimpulkan bahwa genetik memengaruhi hampir separuh dalam variasi perilaku antisosial. Dengan mengidentifikasi gen-gen tersebut, mereka berharap dapat menemukan perawatan dan penanganan yang tepat untuk anak-anak tersebut sebelum terlambat.

"Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa kenakalan pada anak-anak juga didasari kelainan gen. Kenakalan itu hanya bisa diatasi dengan memberikan pendidikan yang baik dan benar kepada mereka," kata dia.

Terrie menyebutkan, pendidikan yang utama dan pertama adalah keluarga. Dengan lingkungan keluarga akan terbentuk sifat, watak, dan perilaku misalkan dalam sebuah keluarga orangtua kurang perhatian terhadap anak, maka anak tersebut akan menjadi nakal (kurang terkontrol) demikian juga sebaliknya kalau lingkungan itu baik ada perhatian orang tua, maka anak akan tumbuh dengan baik.

"Dalam mendidik anak, kita harus mengetahui sifat-sifatnya misalkan anak yang mempunyai sifat pendiam kita dekati dengan halus sehingga anak tersebut mau bercerita tentang masalah yang terjadi, berarti kita menggunakan cara yang halus untuk menghadapinya. Lain lagi dengan anak yang mempunyai sifat keras, kita harus menghadapinya dengan tegas dan keras," ucapnya.

Selain melihat dari lingkungan keluarga dan sifat anak, harus dilihat pula latar belakang keluarga. Jika dalam keluarga tersebut mempunyai latar belakang yang baik, secara otomatis anak akan meniru yang baik. Namun akan berbanding terbalik jika dalam keluarga tersebut mempunyai latar belakang yang kurang baik, anaknya akan mengikuti tidak baik pula.

"Intinya adalah pendidikan dan arahan yang tepat. Tanpa itu, anak-anak dengan kelainan gen, akan semakin agresif dan tidak terkontrol di kemudian hari," tutur dia.
Sumber: okezone.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar