Senin, 27 Oktober 2008

Hati-hati Mengisap Puting Payudara Isteri

Hati-hati Mengisap Puting Payudara Isteri

Radang payudara, walaupun tak seberbahaya dibandingkan kanker
payudara, wajib juga mewaspadainya. Apalagi bila suami Anda perokok
atau tak peduli dengan kesehatan mulut.

Meskipun kalah populer dengan kanker payudara, mastitis payudara
juga wajib dikenali untuk upaya pencegahan karena jika sudah akut,
bisa berakibat pengangkatan peyudara. Istilah mastitis payudara
berarti radang pada payudara. Gejalanya bermacam termasuk adanya
benjolan di payudara. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya radang
ini termasuk keberadaan kuman.

Bila diumpamakan, payudara itu bagaikan pohon yang memiliki batang,
dahan, dan ranting. Bayangkan saja betapa rumit jaringan pengikat,
saluran, dan kelenjar penyusunnya. Oleh sebab itu baik pria atau
wanita wajib menjaga bagian tubuh yang satu ini dengan baik untuk
menghindari kemungkinan terjadinya mastitis.

Tak hanya Anda pemilik payudara yang harus menjaga kebersihan,
pasangan Anda pun mesti menjaga kesehatan mulut, jika ia terbiasa
menghisap puting payudara saat berhubungan seks.

Tiga jenis, tiga penyebab
-----------------------------
Ada tiga jenis mastitis yaitu mastitis periductal, mastitis
pueperalis, dan mastitis supurativa. Ketiga jenis mastitis ini
muncul akibat penyebab yang berbeda dan muncul dalam kondisi yang
juga berbeda.

Mastitis periductal biasanya muncul pada wanita di usia menjelang
menopause, penyebab utamanya tidak jelas diketahui. Keadaan ini
dikenal juga dengan sebutan mamary duct ectasia, yang berarti
pelebaran saluran karena adanya penyumbatan pada saluran di
payudara.

Menurut dr. Samuel J. Haryono, SpB K Onk dari RS Kanker Dharmais,
pada wanita usia 45 tahun ke atas atau pada usia memasuki menopause,
beberapa pemicu reaksi peradangan ialah perubahan hormonal dan
aktivitas menyusui di masa lalu. Faktor penyebab penyumbatan yang
utama ialah jaringan yang mati dan air susu itu sendiri.

Tumpukan jaringan mati dan air susu di saluran payudara ini
menyebabkan buntunya saluran dan pada akhirnya malah melebarkan
saluran di belakangnya, yang biasanya terletak di belakang puting
payudara. Hasil akhirnya ialah reaksi peradangan yang disebut
mastitis periductal.

Jenis kedua ialah mastitis pueperalis atau disebut juga lactational
mastitis, jenis ini banyak diidap wanita hamil atau menyusui.
Menurut dr. Samuel, sekitar 90 persen penyebab utama mastitis jenis
ini ialah akibat kuman yang menginfeksi payudara ibu. Hal ini
dikarenakan air susu merupakan media yang subur bagi pengembang
biakan berbagai jenis kuman.

Jenis kuman yang paling umum ditemui pada mastitis jenis ini ialah
Staphylococcus aureus, yang bisa ditransmisi ke puting ibu melalui
kontak langsung. Ibu yang sedang menyusui, bisa mendapatkan kuman
ini dari kontak dengan mulut bayi, tapi bisa juga dilakukan
penularan sebaliknya, dari ibu ke bayi melalui plasenta.

"Asal kuman pastinya dari kontak langsung antara puting dengan dunia
luar, baik itu dari mulut bayi atau mulut suaminya, apalagi pada
orang dengan kesehatan mulut rendah seperti mulut dari pengisap
rokok," tutur dokter spesialis bedah onkologi ini.

Jenis terakhir ialah mastitis supurativa. Mastitis jenis ini ialah
yang paling sering ditemui. Mirip dengan jenis sebelumnya, mastitis
jenis ini juga disebabkan kuman staphylococcus. Selain itu bisa juga
disebabkan oleh jamur, kuman TBC, bahkan sifilis.

Infeksi kuman TBC memerlukan penanganan yang ekstra intensif. Bila
penanganan tidak tuntas, bukan mustahil langkah
mastektomi/pengangkatan payudara harus dilakukan. "Kelainan di
kelenjar dan saluran payudara bisa menyebar tak terkendali dan
bahkan bisa berulang kejadiannya bila penanganan tidak tuntas,"
tegas dokter kelahiran Yogyakarta ini.

Beda dengan kanker
------------------------
Pada dasarnya gejala yang timbul akibat mastitis ialah timbulnya
benjolan di payudara. Benjolan/penebalan ini berwarna merah, juga
terasa panas dan nyeri. Nyeri yang timbul ialah berupa rasa 'nyut-
nyut' di daerah payudara, apalagi bila benjolan ini sebagai bisul
yang pecah, maka penampilannya jadi mengerikan selain nyeri yang
menyertainya.

Rasa nyeri inilah yang merupakan perbedaan mendasar antara mastitis
dan kanker payudara. Pada kanker payudara, pada awalnya pengidap
tidak akan merasa nyeri sama sekali, melainkan hanya timbul
benjolan.

Benjolan yang ada pada mastitis bukan seperti kanker yang bentuknya
keras, melainkan berupa penebalan yang berisi cairan. Radang
biasanya menyerang salah satu payudara saja, tapi tidak menutup
kemungkinan bisa menyebar hingga kedua payudara terinfeksi.

Pada beberapa kondisi, mastitis bisa menyebabkan keluarnya cairan
dari daerah puting, cairan ini berwarna putih kekuningan serupa
nanah. Lain dengan kanker payudara dimana cairan yang keluar dari
puting biasanya merah atau kuning kecoklatan seperti noda darah.
Terkadang perasaan seperti puting tertarik juga dialami pengidap.

"Orang terkadang over estimate terhadap mastitis, padahal ini
merupakan kasus jinak yang bisa diatasi, justru bila tidak dirasa
nyeri itulah yang wajib diwaspadai," ujar dokter yang hobi melukis
ini.

Dilihat dari penyebabnya, mastitis tidak dipengaruhi oleh faktor
keturunan, melainkan lebih kepada faktor hormonal dan infeksi. Lain
dengan kanker payudara yang dipengaruhi faktor hormonal bahkan
faktor keturunan.

Pada mastitis yang disebabkan infeksi kuman, terkadang berkembang
menjadi suatu abses/ kumpulan nanah dalam rongga baru di jaringan
kelenjar payudara. Nanah ini terbentuk dari kumpulan bakteri,
jaringan, dan leukosit baik yang mati ataupun yang hidup. Bahayanya,
nanah ini bisa menyebar ke bagian tubuh lain hingga menyebabkan rasa
meriang/demam tinggi dan menggigil, keringat banyak, turunnya daya
tahan tubuh, bahkan hingga menurunnya kesadaran.

Kalau sudah begini, mau tak mau harus dilakukan penanganan dokter
secara seksama. Setelah dilakukan diagnosa, dokter bisa menentukan
langkah penyembuhan yang tepat, baik dengan pemberian antibiotik
saja atau harus dilakukan tindakan operasi.

Bila ditemukan gejala menetesnya cairan dari putting, maka perlu
dilakukan pemeriksaan yang disebut duktografi. Pemeriksaan dilakukan
dengan memasukan bahan kontras, dimana akan dilakukan foto di
saluran payudara, dengan demikian dapat diketahui adanya sumbatan
atau polip pada saluran tersebut. Dalam kasus mastitis periductal,
terkadang dilakukan juga langkah biopsi bila disertai massa tumor,
minimal untuk menyingkirkan kemungkinan tumor atau kanker.

Sedangkan bila ternyata ditemukan benjolan tersebut diduga suatu
abses, apalagi yang mengandung nanah, maka harus dilakukan operasi
berupa insisi dan drainase, yaitu operasi penyayatan dan penyaluran
nanah. Perlu diingat bahwa operasi pengeluaran nanah ini harus
dilakukan pada waktu yang tepat, yaitu pada saat benjolan tersebut
melunak / matang agar mudah dikeluarkan.

Langkah operasi diawali dengan pembiusan pasien. Biasanya dilakukan
bius lokal saja, tapi bila mastitis disebabkan infeksi kuman, maka
dilakukan bius umum pada pasien. Berikutnya, daerah payudara
dibersihkan dahulu dengan cairan desinfektan khusus. Setelah itu
baru bisa dilakukan penyayatan pada daerah benjolan, pada tahap ini
dokter akan mencoba membersihkan radang tersebut secara mekanik
debridement .

Kemudian dokter akan melakukan drainase yaitu memberikan saluran
khusus yang digunakan untuk mengalirkan nanah yang ada. Bila langkah
ini selesai dilakukan, maka operasi yang memakan waktu sekitar ½ -1
jam akan ditutup dengan melakukan penjahitan luka secara situasional.

"Bila radang masih termasuk tahap awal dan belum timbul nanah, maka
tidak perlu dilakukan tindakan operasi, cukup dengan pemberian
antibiotik saja," simpul dokter yang pernah bermukim di Amsterdam -
Belanda ini.

Pemberian antibiotik dilakukan sesuai dosis. Dosis dan cara
pemberian antibiotik ditentukan berdasarkan berat
ringannya infeksi dan berat badan seseorang. Perlu diingat, ibu yang
sedang menyusui dan dalam masa
pengobatan dianjurkan tidak menyusui bayinya.

Pria bisa terkena
---------------------
Menurut dr. Samuel, mastitis payudara bisa menimpa siapa saja, tidak
hanya kaum perempuan. Infeksi payudara juga bisa terjadi pada pria,
misalnya pada pria yang terkena infeksi kuman karena melakukan
tindik di daerah puting. Selain itu pria dengan pembengkakan
payudara atau yang dikenal dengan sebutan ginekomasti juga rentan
terkena mastitis meskipun kecil sekali kemungkinan berkembang jadi
kanker payudara.

Bayi dan anak-anak juga tak luput dari bahaya. Bayi bisa tertular
radang dari ibunya melalui plasenta. Anak-anak bisa tertular kuman
penyebab radang ini misalnya melalui gigitan serangga di daerah
payudara, seperti contoh salah satu pasien dr. Samuel.

Peringatan juga ditujukan bagi perempuan yang melakukan suntik
silikon atau injeksi kolagen untuk memperindah bentuk
payudara. "Reaksi tubuh terhadap benda asing seperti implant silikon
dan kolagen bisa beragam diantaranya mengakibatkan pengerasan
jaringan payudara akibat reaksi jaringan ikatnya atau peradangan di
payudara bila terinfeksi kuman " jelas dr. Samuel.

Kunci pencegahan yang utama ialah dengan menjaga kesehatan payudara
dan memelihara payudara yang 'cantik dan sehat'. Jadi, mulailah
perhatikan kesehatan payudara Anda, jangan semata-mata hanya
mengutamakan penampilan/ keindahannya saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar