Senin, 23 Juni 2008

Manfaat minyak Nilam dalam aromaterapi dan kesehatan

Sebagai antiseptik, antijamur, insektisida. Minyak nilam dapat dipergunakan untuk mengobati luka, kudis, ketombe, jerawat, eksim dan iritasi vagina dengan cara mencampur minyak nilam dengan air hangat dapat dipakai untuk mengompres, membilas bagian wajah/kulit yang bermasalah atau dipakai untuk keramas. Untuk menambah harum dan meningkatkan efektivitas perawatan rambut minyak nilam dapat dicampur dengan minyak atsiri lainnya seperti minyak kenanga dan melati. Minyak nilam yang dicampur dengan minyak jeruk dapat menanggulangi iritasi pada vagina. Daun nilam dapat disimpan di antara lipatan pakaian untuk menghidarkan gangguan serangga/ kutu. Dan masih banyak lagi kegunaan minyak nilam yaitu dapat digunakan dalam bidang kecantikan, menanggulangi gangguan mental dan emosional, dengan cara pemijatan, merendam atau dengan hirup/menghirup uap dan juga minyak nilam sebagai aprodisiak (sumber; Yang N. Balittro)

RESPON TIGA KLON KUMIS KUCING (Orthosipon aristatus) TERHADAP MIKORIZA ARBUSKULA

The research aiming at the effect of arbuscular mycorrhiza to the 3 clones of Orthosipon aristatus was conducted in the green house and laboratory of Indonesian Spices and Medicinal Crops Research Institute, Bogor in 5 months. Completely randomized design, arranged factorially with 2 factors and 3 replications was used. First factor was the clone of orthosipon consisted of white flower, purpel and rather purple clones, meanwhile second factor was Arbuscular Mycorrhiza (AM) inoculation (300 spores of AM/plant) consisted of: without AM, Glomus agregatum, Mac-1 (mixed of Acaulospora sp and Glomus sp), and Mac-2 (mixed of 8 kinds of AM). The result showed a significant effect of orthosipon clone to the plant growth (plant height, number of leaves and stem), fresh weight of stem, dry weight of leaf and root, and leaf area index. White flower clone showed the best growth responses to the AM inoculation (fresh weight of leaf and plant P uptake increased 41,1% to 89,59% and 48,9% to 109,2%, respectively). Glomus agregatum inoculation resulted the highest increasing plant height, number of leaves and stem, dry weight of leaf and stem, and leaf area index of the three clones. Key words : Orthosipon aristatus, clone, arbuscular mycorrhizae, growth, production. Octivia Trisilawati; Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

Komfrei (symphytum officinale)

Tanaman introduksi berkhasiat obat. Pemanfaatannya secara umu yaitu komfrei mempunyai peran yang besar bagi masyarakat Jerman yang merupakan ramuan turun temurun. Bagian yang digunakan adalah daun dan akarnya. Penggunaannya bukan hanya untuk obat luar tetapi juga sering digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Akar yang dihaluskan dicampur dengan sedikit air panas dan minyak goreng dapat digunakan untuk kompres pada bagian tubuh yang luka. Daun yang dihaluskan dan direbus dengan air sampai airnya berkurang, diminum sebagai teh dapat menyebuhkan luka lambung. Daun segar yang dilayukan dan diberi minyak goreng juga dapat digunakan untuk kompres. Daun segar atau kering yang ditambahkan ke dalam air mandi untuk berendam dapat melembutkan kulit. Tepung dari akar yang diberi perlakuan khusus dapat dijadikan untuk cream penyembuh luka. Khasiat komfrei dalam farmakologi Cina dan pengobatan tradisional lainnya memiliki sifat dingin dan agak sedikit pahit. Biasanya efek ini diperoleh dari penggunaan daun, dengan atau tanpa tangkai. Komfrei banyak digunakan dalam berbagai pengobatan gangguan darah dan pembuluh darah. Diberbagai negara tanaman ini digunakan secara turun-temurun dan terbukti mampu mengobati tekanan darah tinggi, tekanan darah rendah, kolesterol, leukimia dan diabetes dan masih banyak lagi kegunaan-kegunaan dalam Komfrei ini. (sumber Melati, Balittro)

Ketumbar

Sebagai tanaman obat, tanaman ketumbar selain digunakan untuk bumbu masak juga sebagai obat anti spasmodic, carminative (peluruh kentut), stimulant (perangsang) dan penambah nafsu makan. Ketumbar juga menunjukkan aktifitas hypoglycemik. (penurunan kadar gula dalam darah) dan juga penurun kadar lemak dalam darah. Kadang-kadang ketumbar juga digunakan sebagai obat kuat (aphrodisiac). Ketumbar juga dapat digunakan sebagai obat antifertility (pencegah kesuburan), antioksidan, dan anticonvulsant (pereda kejang). Ketumbar digunakan untuk obat keluhan sakit badan, kehilangan nafsu makan dan keluhan pada abdomen bagian atas. Ketumbar juga digunakan secara tradisional untuk keluhan pencernaan dan lambung, batuk, sakit dada, keluhan pada kandung kemih, penyakit lepra, disentri, sakit kepala, gangguan pada rahang dan mulut dan nafas berbau. Ketumbar juga digunakan untuk obat reumatik dan sakit pada sendi. Ketumbar juga dapat meningkatkan nafsu seksual. Ahli obat herbal di Cina menggunakan biji ketumbar untuk membantu pencernaan dan sakit lambung. Mereka juga menyatakan bahwa herbal ketumbar dapat digunakan untuk obat influensa. Ahli obat Cina menggunakan daun dan biji untuk membantu mengurangi bau yang tidak sedap pada alat kelamin pria maupun wanita. Minyak biji ketumbar banyak digunakan dalam obat-obatan. Berpotensi sebagai obat antibacterial dan juga digunakan untuk keluhan kejang perut (kolik), nyeri pada syaraf (neuralgia) dan reumatik. Minyak ketumbar dapat digunakan untuk mengurangi bau obat dan tembakau. Minyak ketumbar juga digunakan untuk parfum dan minuman beralkohol. (sumber: Devi R, Balittro)

Senin, 02 Juni 2008

Comparison of medical data of atomic-bomb survivors resident in the U.S. and Hiroshima.

The third medical examination of A-bomb survivors residing in the U.S. was performed in San Francisco, Los Angeles, Seattle and Honolulu during the period 6 - 28 May 1981. The test results were studied and the actual state of the survivors in the U.S., was reviewed as explained hereunder. 1) The number of survivors actually registered with the Committee of A-bomb Survivors in the U.S. is 491 (133 males and 358 females) of whom 57.2% are U.S. citizens. Those exposed in Hiroshima accounted for 91.8%. The mean age was 53.3 +- 8.9, thus they were more than 3 years younger than their counterparts in Hiroshima. The present addresses of the survivors are distributed over 15 states, but those in California constitute 77.6% of the total, and when those residing in the states along the west coast and Hawaii are added the rate increases to 95.9%. 2) Those who underwent health examination numbered 166 (45 males and 121 females), and comparison of the U.S. survivors against the Hiroshima survivors showed there to be a difference in the following points. The prevalence of hypertension was lower among the U.S. survivors, but RBC counts and hemoglobin concentration were significantly higher. The same was observed for blood lipids with hypercholesterolemia and hypertriglyceridemia being found at a significantly higher rate in the U.S. survivors. 3) Those free of clinical abnormalities in this survey were 37.3%, and the rest required dietary guidance, follow-up observation, detailed examination of treatment. Those with diseases which are considered would make them eligible for health management allowance if in Japan, accounted for 18.7%. Ito,-Chikako (Hiroshima Atomic-Bomb Survivors Health Clinic (Japan)); Matsubara,-Hiroomi; Yamakido,-Michio; Yamada,-Hiroaki

Delayed effects of A-bomb radiation; and reply.

The authors question Stewart's arguments for suggesting that previous estimates of radiation health effects are low by a factor of 10. In this letter and in Stewart's reply, the healthy survivor effect is discussed, with particular reference to cerebrovascular deaths, together with the criticism that arguments do not make sufficient use of the 'not in city cohort'. (U.K.). Ginevan,-M.E.; Puskin,-J.S. (Nuclear Regulatory Commission, Washington, DC (USA). Office of Nuclear Regulatory Research); Stewart,-A.M.

Irradiation of food. Report from a committee of experts.

A committee has on instructions from the swedish government made an inquiry into the possible effects on health and working environment from irradition of food. In this report, a review is presented on the known positiv and negative effects of food irradiation Costs, availabilty, shelf life and quality of irradiated food are also discussed. According to the report, the production of radiolysis products during irradiation is not easily evaluated. The health risks from irradiation of spices are estimated to be lower than the risks associated with the ethenoxid treatment presently used. (L.E.).Lindell,-B.; Danielsson-Tham,-M.L.; Hoel,-C.