Tampilkan postingan dengan label parkinson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parkinson. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2013

Turunkan Risiko Parkinson Dengan Paprika



Di AS baru-baru ini dirilis sebuah hasil penelitian yang menyatakan bahwa penderita parkinson bisa menurunkan risiko parkinson hingga 30 persen jika orang tersebut makan sayuran dua kali seminggu atau lebih.

Hal ini disampaikan oleh Dr Searles Nielsen, seperti dilansir Mirror, Minggu (12/5/2013), dari University of Washington di Seattle, AS, yang menyatakan bahwa para ilmuwan telah menemukan adanya hubungan antara reseptor otak dengan pola makan 600 pasien parkinson. Para ahli mempelajari pola makan 500 pasien yang didiagnosis memiliki penyakit Parkinson.

Lebih lanjut Nielson menyatakan "Penelitian kami ini bertujuan untuk menyelidiki diet apa yang baik untuk penderita parkinson dan risiko mengembangkan penyakit Parkinson,"

Dan hasilnya, sayuran seperti paprika, tomat, kentang dan terong ternyata bisa mengurangi risiko parkinson hingga 30 persen.

"Ada sejumlah faktor lainnya yang saat ini masih dalam penelitian, yang mungkin bisa menurunkan risiko seperti merokok, minum kopi dan berolahraga".

Sementara ahli gizi Catherine Collins, dari St George’s Hospital NHS Trust di London, mengatakan bahwa penelitian ini sama seperti diet gaya Mediterania yang makan lebih banyak sayuran seperti tomat dan paprika.

via.liputan6.com

Rabu, 28 Juli 2010

Menendang & Memukul Saat Tidur Tanda Awal Pikun dan Parkinson

parkinsonTak sedikit orang yang suka menandang atau memukul-mukul tanpa sadar saat sedang tidur. Ilmuwan memperingatkan, menendang dan memukul saat tidur bisa jadi pertanda awal penyakit dementia (pikun) dan parkinson.

Dementia merupakan sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran. Gangguan hanya terjadi pada inteligensia, daya ingat, bahasa, pemecahan masalah, orientasi dan konsentrasi.

Sedangkan Parkinson merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan adanya tremor atau gerakan tubuh yang tidak terkontrol, seperti gemetaran, juga kekakuan otot. Dalam kasus tertentu disebabkan oleh toksin, kepala terluka dan obat-obatan.

Menurut penelitian, orang yang suka menendang dan memukul saat tidur lebih mungkin mengembangkan dementia dan penyakit Parkinson. Dari kebiasaan tidur ini, dapat diprediksi adanya dementia dan Parkinson, bahkan 50 tahun sebelum penyakit tersebut didiagnosa.

Peneliti telah menemukan hubungan antara orang dengan perilaku tidur REM (rapid eye movement) dan kondisi otak beberapa tahun kemudian.

Tidur REM adalah tahap ketika orang biasanya bermimpi. Kebanyakan orang menjadi 'lumpuh' selama fase tidur ini, karena otak menutup otot.

Tetapi jika orang mengalami gangguan tidur REM, maka tidurnya sering bergerak bahkan dengan gerakan kekerasan. Biasanya orang dengan gangguan tidur REM ini sering memukul pasangan tidurnya atau jatuh dari tempat tidur.

Dari penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal medis Neurology, ada bukti bahwa gangguan tidur tertentu dapat menjadi alat prediksi adanya penyakit otak. Hal ini memungkinkan dokter untuk melakukan diagnosis jauh sebelum penyakit tersebut terjadi.

"Temuan kami menunjukkan bahwa pada beberapa pasien, kondisi ini memiliki rentang yang sangat panjang dari aktivitas di otak dan juga mungkin memiliki jangka waktu yang lama sebelum gejala lain terlihat," ujar Dr Bradley Boeve, penulis stud dari Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, seperti dilansir dari Dailymail, Kamis (29/7/2010).

Dengan menggunakan catatan dari Mayo Clinic, peneliti mengidentifikasi 27 orang dengan gangguan tidur REM setidaknya 15 tahun sebelum dirinya mengalami penyakit Parkinson, dementia atau atrofi multi sistem (gangguan otak mirip Parkinson).

Hasilnya, diperoleh bahwa rentang waktu antara dimulainya gejala gangguan tidur dan penyakit otak berkisar sampai 50 tahun, dengan rentang rata-rata 25 tahun.

"Kami belum memahami mengapa korelasi ini ada. Karena ukuran sampel penelitian ini masih kecil, maka dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut," ungkap Ruth Sutherland, chief executive dari Alzheimer's Society.
(mer/ir)

Oleh: Merry Wahyuningsih - detikHealth