Tampilkan postingan dengan label Sunat Pria untuk Mencegah Ancaman Penyakit Menular HIV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunat Pria untuk Mencegah Ancaman Penyakit Menular HIV. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Januari 2011

MASALAH HIV/AIDS DAN ROKOK PERLU PERHATIAN SERIUS

Untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai kekuatan pembangunan, masalah HIV/AIDS dan rokok memerlukan perhatian serius. Hal ini disebabkan jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya dengan proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi pada kelompok usia produktif (usia 20-29 tahun) sebanyak 49,07%. Demikian juga dengan jumlah perokok, berdasarkan hasil Riskesdas Tahun 2010, prevalensi perokok secara nasional sebesar 34,7%. Berarti lebih dari sepertiga penduduk berisiko mengalami gangguan kesehatan seperti kanker, penyakit jantung dan penyakit akibat gangguan pernapasan.

Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH ketika menyampaikan sambutan kepada peserta Rapat Kerja Nasional Gubernur di Jakarta, Senin, 31 Januari 2011.

Menurut Menkes, kesehatan merupakan unsur dominan dalam Millenium Development Goals (MDGs), karena lima dari delapan agenda MDGs berkaitan langsung dengan kesehatan. Lima agenda tersebut adalah Agenda ke-1 (Memberantas kemiskinan dan kelaparan), Agenda ke-4 (Menurunkan angka kematian anak), Agenda ke-5 (Meningkatkan kesehatan ibu), Agenda ke-6 (Memerangi HIV/AIDS, Malaria, dan penyakit lainnya), serta Agenda ke-7 (Melestarikan lingkungan hidup).

Untuk mendukung upaya pencapaian MDG’s, pada tahun 2011 Kemenkes mulai meluncurkan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). BOK diberikan kepada seluruh Puskesmas di Indonesia yang besarnya berkisar antara Rp 75 juta sampai Rp 250 juta per tahun sesuai wilayah regional masing-masing. Pada tahun 2011 ini juga mulai dilaksanakan Program Jaminan Persalinan (Jampersal), yaitu pemberian jaminan persalinan bagi masyarakat yang belum mendapat jaminan kesehatan untuk persalinan. Jaminan pelayanan yang diberikan mencakup : pemeriksaan kehamilan, pelayanan persalinan, pelayanan nifas, pelayanan Keluarga Berencana, pelayanan neonatus dan promosi ASI.

Berkaitan dengan agenda ke-6, Menkes mengingatkan kembali pentingnya komitmen melaksanakan INPRES No. 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan. Salah satu fokus program pengendalian HIV/AIDS 2010 dan 2011 yaitu jumlah orang yang berumur 15 tahun atau lebih yang menerima konseling dan testing HIV pada tahun 2010 sebanyak 300.000 orang dan tahun 2011 menjadi 400.000 orang. Persentase orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mendapatkan obat anti retroviral (ARV) tahun 2010 sebanyak 70% dan tahun 2011 menjadi 75%. Presentase kabupaten/kota yang melaksanakan pencegahan penularan HIV sesuai pedoman tahun 2010 sebanyak 50% dan tahun 2011 menjadi 60%. Penggunaan kondom pada kelompok risiko tinggi tahun 2011 sebanyak 35% pada perempuan dan 20% pada laki-laki.

“Berdasarkan hasil Riskesdas 2010, persentase penduduk umur  15 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS sebesar 11,4%. Hal ini menunjukkan pentingnya terus meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) terhadap kelompok ini”, ujar Menkes.

Sedangkan prevalensi penduduk yang merokok pada kelompok umur 45-54 tahun sebesar 32,2%. Sedangkan pada penduduk laki-laki umur 15 tahun ke atas sebanyak 54,1% adalah perokok. Prevalensi tertinggi pertama kali merokok pada umur 15-19 tahun (43,3%) dan sebesar 1,7% penduduk mulai merokok pertama kali pada umur 5-9 tahun. Untuk mengatasi hal itu, mengharapkan para Gubernur segera mengeluarkan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di wilayah kerja masing-masing.

Pemberdayaan masyarakat

Mengacu pada visi pembangunan nasional, strategi pertama yang dilakukan Kemenkes adalah pemberdayaan masyarakat, swasta, dan masyarakat madani melalui kerja sama nasional dan global. Berarti pembangunan kesehatan juga tidak terlepas dari komitmen Indonesia sebagai warga masyarakat dunia untuk ikut merealisasikan tercapainya MDGs.

Masyarakat diarahkan agar berdaya dan ikut aktif memelihara kesehatannya sendiri, melakukan upaya pro-aktif tidak menunggu sampai jatuh sakit, karena ketika sakit sebenarnya telah kehilangan nilai produktif. Upaya promotif dan preventif perlu ditingkatkan untuk mengendalikan angka kesakitan yang muncul dan mencegah hilangnya produktivitas serta menjadikan sehat sebagai fungsi produksi yang dapat memberi nilai tambah, ujar Menkes.

Pemberdayaan masyarakat berupaya memfasilitasi percepatan dan pencapaian derajat kesehatan bagi seluruh penduduk dengan mengembangkan kesiap-siagaan di tingkat desa dan kelurahan yang disebut Desa dan Kelurahan Siaga Aktif seperti dituangkan melalui Keputusan Menkes No.1529/MENKES/ SK/X/2010 tentang Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.

Desa dan Kelurahan Siaga Aktif adalah desa dan kelurahan yang penduduknya dapat mengakses dengan mudah pelayanan kesehatan dasar yang memberikan pelayanan setiap hari melalui Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) atau sarana kesehatan yang ada seperti Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu (Pustu), Puskesmas atau sarana kesehatan lainnya. Penduduknya dapat mengembangkan upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) dan melaksanakan surveilans berbasis masyarakat (meliputi pemantauan penyakit, kesehatan ibu dan anak, gizi, lingkungan dan perilaku), kedaruratan kesehatan dan penanggulangan bencana serta penyehatan lingkungan serta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Pada kesempatan tersebut, Menkes mengharapkan kepada para Gubernur untuk Mengembangkan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif di daerah masing-masing untuk mempercepat tercapainya masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon : 021-52907416-9, faks : 52921669, Call Center : 021-500567, atau alamat e-mail : puskom.publik@yahoo.co.id, info@depkes.go.id, dan kontak@depkes.go.id

Sumber: http://www.depkes.go.id/

Artikel terkait:

Selasa, 20 Juli 2010

Sunat Bisa Selamatkan 4 Juta Pria Afrika dari Ancaman HIV

sunat afrika dalam science dailyBadan kesehatan dunia (WHO) dan para tokoh dunia kini ramai-ramai mengkampanyekan sunat pria untuk mencegah ancaman penyakit menular yang mematikan HIV. Kampanye ini diharapkan bisa menambah jumlah pria yang disunat terutama di negara Afrika timur dan selatan.

Pakar HIV dari Population Services International (PSI) Krishna Jafa menghitung jika kesadaran pria di Afrika timur dan selatan baik yang dewasa maupun bayi lelaki yang baru lahir tentang sunat bisa meningkat menjadi 80 persen maka akan ada 4 juta pria Afrika yang selamat dari ancaman HIV.

Semakin banyak pria yang disunat juga bisa menghemat biaya kesehatan untuk penanggulangan HIV US$ 20,2 miliar untuk anggaran tahun 2009-2025.

"Dengan sumber daya yang tipis, kita harus fokus pada metode yang terbukti efektif dalam mencegah penularan HIV seperti melalui sunat. Mantan Presiden AS Bill Clinton dan Bill Gates dalam pidatonya juga menyerukan untuk meningkatkan jumlah laki-laki yang disunat," ujar Krishna Jafa seperti dikutip dari Reuters, Rabu (21/7/2010).

Sementara penelitian yang dilakukan WHO menunjukkan sunat pada laki-laki bisa mengurangi risiko HIV hingga 60 persen. Sunat diharapkan bisa mengurangi jumlah infeksi baru HIV dengan menggunakan teknik dan peralatan yang lebih baik, serta pelatihan bagi staf yang melakukan.

Dalam sistem yang baru dirintis, satu tim yang terdiri dari dua dokter dan tiga perawat mampu mengkhitan empat orang pada saat yang bersamaan dan meningkatkan rata-rata jumlahnya dari 3 operasi per jam menjadi 10 operasi per jam. Setelah lebih dari 12 bulan melakukan sistem ini, sekitar 6.500 orang sudah disunat.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kualitas dari prosedur ini tetap baik untuk dilakukan. Apalagi tidak ada laporan efek samping buruk setelah disunat.

Studi yang dilakukan PSI menemukan Zimbabwe sebagai negara yang memiliki tingkat rata-rata HIV pada orang dewasa sekitar 13,7 persen dan tingkat laki-laki yang disunat hanya sekitar 10 persen saja. Namun jika 80 persen laki-lakinya disunat, maka kemungkinan bisa mencegah 750 ribu orang dari infeksi HIV baru.

Bos Microsoft, Bill Gates melalui Gates Foundation telah menghabiskan dana US$ 34 miliar untuk memerangi HIV. Dalam konferensi AIDS pada Senin lalu ia mengaku terkejut dengan banyaknya pria di Afrika yang ingin disunat demi mengurangi risiko tertular HIV. Jumlah ini menurutnya jauh lebih banyak dari yang diharapkan.
(ver/ir)

Oleh: Vera Farah Bararah - detikHealth